Khadijah dan Aisyah, kedua
perempuan terhormat itu bergantian mengisi kehidupan Rasulullah pada dua fase
kenabian yg berbeda. Jika Rasulullah ditanya siapa istri yg paling dicintainya,
Rasul menjawab, 'Aisyah'. Tapi, ketika ditanya tentang cintanya pada Khadijah,
beliau menjawab, 'cinta itu Allah karuniakan kepadaku'. Cinta Rasul pada keduanya
berbeda, tapi keduanya lahir dari 1 yg sama: pesona kematangan. Pesona Khadijah
adalah pesona kematangan jiwa. Pesona ini melahirkan cinta sejati yg Allah
kirimkan kepada jiwa Nabi SAW hingga beliau berkata, 'Siapa lagi yg dapat
menggantikan Khadijah?', sepeninggal istrinya wafat. Cinta ini pula yg masih
menyertai nama Khadijah tatkala nama tersebut disebut-sebut setelah Khadijah
tiada, sehingga Aisyah cemburu padanya. Sedangkan Aisyah adalah gabungan dari
pesona kecantikan, kecerdasan, dan kematangan dini. Inilah gabungan pesona yg
kemudian melahirkan syahwat. Sebagaimana Ummu Salamah berkata, 'Rasulullah
tidak dapat menahan diri jika bertemu dg Aisyah'. Itulah pesona kematangan. Pernikahan
dan rumah tangga yg memesona merupakan perpaduan dari dua atau lebih
kepribadian yg juga memesona. Dan pesona itu sejati, bukan dari ketampanan,
kecantikan, atau kekayaan semata, tapi dari kematangan kepribadian. Kepribadian
yg matang itu kuat tapi meneduhkan. Disinilah seseorang dapat mengatakan,
'rumahku surgaku'. Ketika sedang berada didalamnya ia menjadi sumber energi
untuk berkarya diluar. Ketika berada diluarnya selalu ada kerinduan untuk
kembali.
Selasa, 19 Mei 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar