Minggu, 26 Maret 2017
Beruntunglah Si Fulan/Fulanah Itu
Seperti kematian yang dilalui dengan sekarat singkat. Beruntunglah si fulan/fulanah itu yang khusnul khatimah. Layaknya mentari yang dimakamkan di ufuk barat, ia akan tetap menjadi senja di batas kalbu yang tersimpan. Ya, jika selama hidupnya ia pergunakan untuk amal shaleh. Tak ada yang mampu melihat kegelapan dengan senyuman. Kecuali mereka orang-orang yang dikasihi oleh Rabbku. Kegelapan baginya merupakan sesuatu hal yang amat terang dan nyata. Tak seperti dunia yang fana dan melenakan ini. :) Oleh : -Aisyah Mega Permata-
Hai Mimpi !!! Apa Kabar ??? :)
Hai mimpi, apa kabar kau disana? Dalam angan yang tak bertepi. Teruslah meninggi dan meninggi. Hingga ia melangit dan meninggalkan bumi. Karena jejak kaki tak boleh hanya sampai disini. Hai asa, masih adakah kau disana? Jangan kau halangi semua mimpi. Menciutkan nyali yang ada di dalam hati. Karena untuk mencapai derajat yang tinggi. Kau harus rela bersakit hati. Dari rentetan kegagalan yang menghampiri. :) Oleh : -Aisyah Mega Permata-
Setiap Orang Punya Masanya
Setiap orang punya masanya. Masa dimana hal-hal tak terduga harus dilalui. Dengan sejuta impian, ikhtiar, dan do'a yang melangit. Setiap orang punya masanya. Masa dimana kita harus siap menerima segala kemungkinan takdir. Kemungkinan terbaik dan juga kemungkinan terburuk. Karena itu merupakan jalan untuk membuat sejarah hidup. Sejarah hidup terbaik bagi mereka yang mau memperjuangkannya. :) Oleh : -Aisyah Mega Permata-
Selasa, 19 Mei 2015
KHADIJAH & AISYAH
Khadijah dan Aisyah, kedua
perempuan terhormat itu bergantian mengisi kehidupan Rasulullah pada dua fase
kenabian yg berbeda. Jika Rasulullah ditanya siapa istri yg paling dicintainya,
Rasul menjawab, 'Aisyah'. Tapi, ketika ditanya tentang cintanya pada Khadijah,
beliau menjawab, 'cinta itu Allah karuniakan kepadaku'. Cinta Rasul pada keduanya
berbeda, tapi keduanya lahir dari 1 yg sama: pesona kematangan. Pesona Khadijah
adalah pesona kematangan jiwa. Pesona ini melahirkan cinta sejati yg Allah
kirimkan kepada jiwa Nabi SAW hingga beliau berkata, 'Siapa lagi yg dapat
menggantikan Khadijah?', sepeninggal istrinya wafat. Cinta ini pula yg masih
menyertai nama Khadijah tatkala nama tersebut disebut-sebut setelah Khadijah
tiada, sehingga Aisyah cemburu padanya. Sedangkan Aisyah adalah gabungan dari
pesona kecantikan, kecerdasan, dan kematangan dini. Inilah gabungan pesona yg
kemudian melahirkan syahwat. Sebagaimana Ummu Salamah berkata, 'Rasulullah
tidak dapat menahan diri jika bertemu dg Aisyah'. Itulah pesona kematangan. Pernikahan
dan rumah tangga yg memesona merupakan perpaduan dari dua atau lebih
kepribadian yg juga memesona. Dan pesona itu sejati, bukan dari ketampanan,
kecantikan, atau kekayaan semata, tapi dari kematangan kepribadian. Kepribadian
yg matang itu kuat tapi meneduhkan. Disinilah seseorang dapat mengatakan,
'rumahku surgaku'. Ketika sedang berada didalamnya ia menjadi sumber energi
untuk berkarya diluar. Ketika berada diluarnya selalu ada kerinduan untuk
kembali.
FULAN & FULANAH
Allah tidak mengatakan secara
langsung dalam al-Qur'an yang mulia bahkan Nabi SAW dengan haditsnya yang
menyatakan bahwa jodoh kita telah ditulis berupa nama seseorang. Bahwa Fulan
akan berjodoh dengan Fulanah.
Bermodal yakin pada sebuah
janji Allah saja. Bahwa perempuan baik-baik akan berjodoh dengan laki-laki baik-baik
dan sebaliknya.
Meski kita telah berupaya
menghafalkan aneka surat dalam al-Qur'an, sholat wajib dan sunah. Puasa senin
kamis. Apakah kita telah dinilai seorang yg teramat baik sehingga pantas
mendapatkan seorang bidadari atau seorang pangeran?
Itulah yang Allah rahasiakan,
bagaimana cara Allah memasangkan hamba-hambaNya.
Karena Allah menjodohkan
"kualitas". Oleh : -Aisyah Mega Permata-
Minggu, 17 Mei 2015
Pendidikan memang bukan segala-galanya. Tapi segala-galanya berawal dari Pendidikan.
Ketika
kita mulai berhenti belajar, maka otak kita seketika juga akan berhenti seperti
orang mati. Tiba-tiba sekarat, dan akhirnya tak berdenyut. Orang yang berhenti
belajar disebut orang lansia, meskipun ia masih muda. Tapi orang yang tidak
pernah berhenti belajar, dia akan muda selamanya, meskipun dia sudah tua. Jadi,
jangan pernah berhenti untuk belajar. Hiduplah seakan kau akan mati besok, dan
belajarlah seolah kau akan hidup selamanya. Oleh : -Aisyah Mega Permata-
Selasa, 12 Mei 2015
Kefanaan Dunia
Ada saat-saat terberat, ketika
segala hal yang kita miliki harus direlakan pergi. Teman sepermainan di masa
kanak-kanak, sederet pacar ketika remaja,
keluarga, dan handaitaulan. Mereka tak lebih dari sahabat setia di dalam
kehidupan. Pada saatnya mesti kita tinggalkan. Atau mereka meninggalkan kita.
Sejenak akan menjadi kenangan, selanjutnya akan saling melupakan. Kita pun tau,
cinta tak mampu meninggalkan keniscayaan itu. Seluruh laku sepanjang usia,
nyatanya, sekedar upaya menggarit angka hari lahir dan mati. Sembari mereguk
air kehidupan di danau persinggahan. Selebihnya, kita akan kembali ke
pengembaraan yang panjang. Dunia adalah keterkucilan kita. Sitok Srengenge - "Aku + Kau = Cinta"
Sepucuk Inspirasi
Setiap
malasmu dan ketidakpedulianmu datang, ingatlah umat yang membutuhkan uluran
tanganmu. Ingatlah mereka membutuhkanmu di setiap detik waktu luangmu. Mereka
bergelut dengan kesengsaraan, kenistaan, kefakiran dan maut. Minimal, doakan
mereka. Ya Allah YRA lindungilah mereka di bawah asuhanmu. Tangan hambamu ini
pendek, sedangkan jangkauan tanganmu tak terbatas maka kukembalikan mereka ke
dalam asuhanmu. Aku juga tak ingin mencampuri beberapa urusan yang memang bukan
tugasku. Beberapa ujian yang memang Engkau peruntukkan untuk menguji umatmu.
Izinkanlah hambamu ini hanya memberi sedikit kesejukan untuk mereka. Meskipun
hanya dengan doa dan untaian kata. Aamiin.
Mencintai Dalam Diam
Ada
rahasia terdalam di hati Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah.
Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu,
sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.
Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik
darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka
dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan
darah ayahnya.
Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ‘Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan.
Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakar. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakar lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ‘Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakar menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ‘Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakar; ‘Utsman, ‘Abdurrahman ibn ‘Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ‘Ali.
Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang
dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakar; Bilal, Khabbab, keluarga
Yassir, ‘Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ‘Ali? Dari sisi
finansial, Abu Bakar sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan
Fathimah.
‘Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. “Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ‘Ali.
“Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku
mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia
mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah
menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.
‘Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ‘Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ‘Ali dan Abu Bakar. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ‘Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ‘Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, “Aku datang bersama Abu Bakar dan ‘Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ‘Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ‘Umar..”
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ‘Umar melakukannya. ‘Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.
‘Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. “Wahai Quraisy”, katanya. “Hari ini putera Al-Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ‘Umar di balik bukit ini!” ‘Umar adalah lelaki pemberani. ‘Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ‘Umar jauh lebih layak. Maka ‘Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ‘Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ‘Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ‘Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
“Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. “Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. “
“Aku?”, tanyanya tak yakin.
“Ya. Engkau wahai saudaraku!”
“Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa
kuandalkan?”
“Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah
menolongmu!”
‘Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan
memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya,
menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya
ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya.
Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan!
Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat
kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.
“Engkau pemuda sejati wahai ‘Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, “Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.
Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan
selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau
penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang.
Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada
menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam
hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
“Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
“Entahlah..”
“Apa maksudmu?”
“Menurut kalian apakah ‘Ahlan wa Sahlan’
berarti sebuah jawaban!”
“Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
“Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah
cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan
kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”
Dan ‘Ali pun menikahi Fathimah. Dengan
menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke
kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.
Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya
bagi Abu Bakr, ‘Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang.
Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
‘Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ‘Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.
Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan
oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah
mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum
menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda”
‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”
Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya,
karena pemuda itu adalah Dirimu” ini merupakan sisi ROMANTIS dari hubungan
mereka berdua.
Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya
Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah
dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah
menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali
ridha (menerima) mahar tersebut.” Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:
“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (Kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, Bab 4)
“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (Kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, Bab 4)
Langganan:
Komentar (Atom)

